RSS

sejarah desa Kiawa


            Asal Nama Kiawa menurut kamus Tontemboan-Nederland karya J.A.T . Schwarz tahun 1905 TIDAK ADA ARTINYA tapi beliau mengarahkan kata dasarnya dari Kata Kiowa yang artinya sekarang sebagai orang yang tidak berpendirian,setengah-setengah,tidak pasti ( tidak mau mengikuti perintah pindah).
          Menurut cerita Orang2 Tua juga di Kiawa nama sebenarnya adalah  bernama Sonder dari asal kata Songkel yang berarti burung Maleo, burung khas Minahasa yang sudah Punah. Burung Maleo tersebut sering menaruh Telurnya yang sangat besar di pasir-pasir di sungai sonder yang mengalir persis di sebelah pemukiman penduduk Wanua Kiowa , Burung Maleo juga sering bertengger, berkumpul di mata air sungai sonder yang disebut Ro’kos  i‘Songkel.
          Jadi kalau diurut kan yaitu Songkel (Sonder) >> Kiowa >> Kiawa  ( Belanda menyebut Sonder : Tonkimbut Bawah, juga Tompakwa )
          Berikut Kisah Rakyat,  Mitos tentang asal mula Desa Kiawa Wangko ( Kiawa meyakini disinilah asal muasal pemukiman pertama orang Minahasa ) :
            Sepeninggalnya  Apo’  AMUT  E  WEWENE   dan  TU’UR  E   TUAMA  ( Toar-Lumimuut) serta  WALI’AN  LA’UN  DANO, kehidupa di Wanua  Kiowa  tetap berada dalam suasana kehidupan yang rukun damai, makmur, sejahtera  dan tenteram sentosa.   Kehidupan rohani dan jasmani dipenuhi kabahagiaan  karena semua keperluan hidup tersedia dalam jumlah yang melimpah di alam sekitar  dan diperoleh dengan mudah.
            Atas dasar musyawarah  dan mupakat  para  Wali’an  dan Tona’as serta Tua-Tua, disepakati bahwa perluasan pemukiman diarahkan ke sebelah barat bagian pemukiman pertama, yaitu:
      1.  Sekitar  hutan LANA.
            Hutan Lana menjadi pilihan pertama, karena lokasi itu cukup ideal, sebab keadaan tanahnya cukup datar dan luas serta   dikelilingi oleh sungai dan sumber air yang cukup banyak.
            Lana  adalah sejenis tumbuhan atau pohon yang  mengandung geta yang gatal baik kayunya maupun daunnya.
            ****  ( Itulah sebabnya hutan itu dikenal dengan sebutan  T A L U N   L A N A).
      2.  Daerah bagian timut  WATU TU-MO-TOWA  TA-LICUR-AN.
            Disepakati pula untuk  melakukan pemekaran dan menambah serta memperluas lokasi  pemukiman  kearah barat, sampai  di  WATU   TU-MO-TOWA. Sebelum perombakan hutan, diadakan upacara ritual yang dipimpin Wali’an  Wangko’  im  Banua Kiowa, untuk mohon berkat serta kekuatan dan petunjuk maupun  perlindungan bagi seluruh lapisan  masyarakat dan tempat pemukiman.
            Setelah diadakan  upacara-upacara tradisional sesuai ajaran para leluhur , dilakukan perluasan lokasi pemukiman, mulai dari hutan  LANA sampai di  WATU TU-MO-TOWA TA-”LICUR”-AN.
           
            Dengan perluasan pemukiman itu, maka WANUA KIOWA sekarang membentang luas dari timur ke barat, mulai dari bagian timur  Talun  Lana  dibawah kaki gungung Lengko’an sampai di sebelah timur Watu  Tu-mo-towa yang tidak berjauhan dengan Teka’an i  Songkel dan  Li’cir  La’un  Dano, membujur dari utara  keselatan dari  Royong-an  Ro’kos I Songkel sampai Rano  Wangko’.
            PENGUNGSIAN  TI-NINCAS-AN.
            Pengungsian TI-NINCAS-AN tersedia banyak tumbuh-tumbuhan,  umbi-umbian serta buah - buahan dan binatang buruan yang dapat dijadikan makanan  serta banyak terdapat air untuk keperluan sawah dan dikelilingi bukit-bukit yang membentengi para pengungsi sehingga mereka bisa hidup aman dan sentosa di tempat itu. Pengungsian  Ti-nincas-an  meliputi perkebunan La’un Dano, Pisok, Ti-nincas-an, Nu’yung, dan Ma-go’go’.
            BERPENCAR KEDELAPAN  PENJURU  MATA ANGIN.
            Pemukim yang menetap di Ti-nincas-an menginginkan agar mereka mencari tempat pemukiman baru dan berpencar di          beberapa tempat diseluruh penjuruh mata angin  Tana’  Ka-senduk-an. Mereka bersepakat mengirim utusan kedelapan penjuru mata angin tana’ Ka-senduk-an,  bahkan  ada yang merantau jauh       kenegeri seberang (su-mengkot) untuk mengadakan peninjauan  dan survey.
      Para utusan menemukan banyak tempat-tempat yang mereka anggap memungkinkan serta layak dan memenuhi  syarat untuk dijadikan selaku pemukiman..
KEMBALI  KEPEMUKIMAN KIOWA.
            Sekelompok pengungsi yang berasal dari  Kina-wangko’an (yang pada mulanya berasal dari Ti-nincas-an),yang melarikan diri dari bahaya letusan gunung Soput-an dan mengungsi  kembali  di Ti-nincas-an, dipimpin oleh orang-orang tua yang pernah mendengar cerita  nenek moyang mereka, tentang  Ti-nincas-an sebagai tempat yang dianggap aman untuk dijadikan tempat pengungsian.
      ( Para leluhur dan nenek moyang dari para pengungsi di  Ti-nincas-an, yang berasal dari  wanua Kina-wangko’an, yang  pada mulanya asli berasal dari Wanua  Kiowa, sebab mereka adalah bagian dari  warga              Wanua Kiowa yang bermukim di  Ro’ong Lana dan Tu-mo-towa yang mengungsi ke Ti-nincas-an      saat wabah sampar  melanda kedua pemukiman itu, tetapi tidak kembali ke Lana dan Tu-mo-  towa,melainkan  pindah ke  Kina-wangko’an adalah tetap merupakan bagian dari  turunan  asli     dari Apo’ Amut e We-wene dan Apo’ Tu’ur e Tuama).
                        Setelah mengungsi beberapa bulan di Ti-nincas-an, mereka merasa agak aman, sehingga  mereka keluar dari Ti-nincas-an  dan beralih  ke arah Timur, pada suatu  tempat disekitar  MA-NEMBO yang sekarang  dikenal dengan  MA-WALE (Nim-awale).
      ( NIMA-WALE artinya bekas PEMUKIMAN atau PERUMAHAN, tempat ini sekarang telah menjadi perkebunan rakyat dan disebut MA-WALE).
                        Para pengungsi yang berasal dari Kina-wangko’an  yang bermukim di Ma-wale membuat rumah   dan membuka ladang serta membuat sawah untuk bercocok tanam. Dalam pengembaraan untuk berburu di pemukiman  mereka menemukan sarang dari burung-burung SONGKEL dalam jumlah  yang sangat banyak dan disekitar tempat  itu terdapat pula  mata air yang berguna.
                       

( Karena daerah ini terdapat banyak burung SONGKEL, mereka menamakan tempat itu dengan nama PERKEBUNAN SONGKEL ). Disitulah kemudian Tou Kiawa berdiam sampai sekarang, dinamailah tempat itu Sonder       ( Songkel ) nama dari burung khas Minahasa yang telah Punah, yang dinamai juga sebagai nama Mata Air  Ro’kos  i’Sonder  dan sungai itu menjadi sungai Sonder ).
                                    

TAHUN BERDIRINYA DESA KIAWA WANGKO MASIH MISTERI DISEBABKAN STATUS DESA SEBAGAI DESA TERTUA DI MINAHASA.

*   KALAU BERDASARKAN SEJAK KAPAN PERTAMAKALI DICATAT NAMA DESA YAITU TAHUN 1677 (334 TAHUN LALU)
*   KALAU TANGGAL, BISA TANGGAL 12 JUNI (1824) DISAAT PELANTIKAN TONA’AS KIAWA DAN TANGGAL YANG TERTERA DI LUKISAN/SKETSA KIAWA OLEH ANTOINE PAYEN, TERTULIS 12 JUNI (1824)
*   BISA JUGA 9 SEPTEMBER 1927 DISAAT KUNJUNGAN RESIDEN MANADO H.J. SCHMIDT DI  TUMOTOWA KIAWA 1.
*   BISA JUGA 17 OKTOBER 1977 DI SAAT PEMEKARAN DESA KIAWA MENJADI DUA.

yang paling terkenal dalam dunia pariwisata adalah Goa Jepangnya. goa ini dulunya peninggalan jepang sewaktu menjajah Indonesia dan konon katanya di goa ini banyak dibunuh orang pribumi yang melawan mereka. goa ini sekarang keadaannya cukup memprihatinkan dan gelap. sewaktu beberapa kali membawa bule orang Jerman, penulis hanya membawa sampai mulut goa dan menjelaskan tentang goa ini karena didalam goa ini juga dapat dijumpai kelelawar dan kadangkala ulang hitam. so hati2,.,., 



2 Responses to "sejarah desa Kiawa "
Ronny Dee said...

Thanks so promosikan Kiawa di blog ini.


August 19, 2013 at 6:41 PM
tommy damima said...

@Ronny Dee,. sama2 bro. namanya juga kan torang tinggal di tanah Minahasa jadi sitou timou tumou tou toch!!!


August 23, 2013 at 7:48 PM

Post a Comment

thanks so baca,. tertarik? kase komen dang,.

 
Return to top of page Copyright © 2010 | Flash News Converted into Blogger Template by HackTutors